LASENAS XIII: Day 2 pt. 1
Aku mengawali pagi Senin
yang cuacanya begitu cocok untuk menarik-selimut-lalu-tidur-lagi dengan
berjalan kaki bersama geng lasenas-ku menuju Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Jujur sadja, aku lupa waktu itu apakah aku sudah mengetahui tempat ini
sebelumnya. Sesampainya disana, tentu saja kami tidak langsung cus ke dalam
karena eh karena kan tida akan muat untuk 200 orang. Jadi kami dibariskan
per-kelompok dan mangap-mingkem menahan kantuk diajak kakak-kakak
panitia untuk beryel-yel ria. Mereka adalah Kak Devita, Kak Dicky, dan Kak Marina
dari STKS Bandung. Mereka jadi semacam MC untuk setiap acara outdoor kami
sekaligus yang dengan sabar menyalakan sirene di toa dan mengarahkan kami untuk
menyeberang. Pada akhirnya, kami diminta sembari menunggu acara yang nantinya
akan dibuka oleh ketua pengurus gedung, kalau q tida wrong ya.
Seingatku, kami terlebih
dulu disuguhkan penampilan apik dari sebuah grup musik yang waktu itu tidak ku
tau namanya. Entah aku tidak mendengarkan perkenalan mereka atau mereka memang
tidak memperkenalkan diri. Terbekatilah penyakit lupa ku ini😇 aku kira mereka akan menampilkan lagu apa atau begaimana. Ternyata eh
ternyata, mereka memusikalisasi pidato (sebut saja begitu) milik Bung Karno secara
ringkas karena ya kalau tidak diringkas bisa jadi waktu kami habis hanya untuk
melihat penampilan mereka saja. Dan penampilan mereka… keren skale! Sang vokalis
benar membawakan pidato-pidatonya dengan penuh penghayatan. Aku ingat (atau
seingatku) bahwa ada saat dimana aku merinding mendengarnya. (Belakangan, aku
baru tahu bahwa nama grup musik ini adalah Adew Habtsa dan Rekan atau bekennya
AHDR. Mereka memang membawakan lagu atau memusikalisasi puisi yang berbau
nasionalisme. Salut sekali masih ada grup musik yang seperti ini). Beruntungnya,
aku begitu rajin sehingga mengabadikan penampilan mereka dengan digital
camera Samsung DV100 karena hanya digi-cam jadi mohon maklum
y atas kualitas gambarnya. Mohon maklumi pula kualitas pengambilan videonya
yang luar biasa menggugah jiwa (aku sudah berusaha untuk men-stabilize
videonya sebisaku jadi mohon dengan sangat jangan dicaci😭)
[ke-feses-an sinyal provider yg kugunakan menjadi alasan video belum bisa di-upload, harap maklum😅]
Imagine, say. Bukan Bung
Karno sungguhan loh yang di depanku waktu itu, tapi aku se-terbawa suasana itu.
Bagaimana jika aku ada di antara ribuan khalayak ramai di masa lalu yang secara
langsung mendengar Bung Karno berpidato? Pantas sadja banjak sekali
perempoean jang terpincoet dengan pesona beliaoe.🙇
Pada 18 Agustus – 22 Desember
1930, Ir. Soekarno disidang oleh Pemerintah Hindia Belanda atas tuduhannya
membelot pemerintahan karena beliau waktu itu menjabat sebagai pemimpin PNI. PNI
dianggap sebagai perkumpulan yang mengganggu keamanan negeri dan melakukan
pemberontakan pada pemerintah melalui jalan yang tidak sah, yang katanya
Pemerintah Hindia Belanda melanggar pasal 169 KUHP. Disini lah Ir. Soekarno membacakan
pidato pembelaan (pledoi) yang beliau susun di Penjara Banceuy (aku juga kesini,
shabr y nanti q storykan). Pledoi ini berjudul Indonesia Menggugat, dan judul
inilah yang mengilhami pergantian nama gedung de Landraad menjadi Gedung
Indonesia Menggugat.
![]() |
| belongs to @Kemdikbud_RI |
Setelah semua kelompok
kebagian menjelajahi gedung, kami beranjak pergi ke Museum Konferensi
Asia-Afrika.
![]() |
| belongs to @Kemdikbud_RI |
Kali ini karena tujuan kami
ke museum jadi kami nggak ke Gedung Merdeka yang kemaren jadi tempat pembukaan
acara. Sebelahan doang kok. Sejarah gedung ini cukup panjang dan tentunya
gedung ini adalah peninggalan kolonial Belanda.
Tersebutlah pada tahun 1895,
gedung Concordia menjadi tempat perkumpulan orang-orang Eropa (terutama
Belanda) yang tinggal di Bandung dan sekitarnya. Tempat ini berada di sudut
jalan Groote Postweg dan Karrenweg (sekarang: Jalan Asia-Afrika
dan Jalan Braga). Gedung ini seringkali banget beralih fungsi dari gedung
komedi hingga sekarang jadi museum. Mari saya rincikan berdasarkan catatan saya
yang sayangnya remeh sekali.📝
1895 :
Concordia, perkumpulan orang Eropa dan gedung pertunjukan komedi.
1906 :
direncanakan jadi pusat pemerintahan Hindia Belanda namun digantikan ke Gedung
Sate. Tidak terealisasi karena krisis moneter pada 1930.
1921 :
Socioteit Concordia, direnovasi hingga luas seluruhnya menjadi 7500 m2.
Menjadi gedung pertemuan paling oke di Nusantara. Sempat dirombak lagi tahun
1940 biar makin oke.
1942 :
Dai Toa Kaikan, pusat kebudayaan yang didirikan Jepang dengan harapan
masyarakat pribumi loyal terhadap Jepang. Secara tidak langsung Jepang juga
menyebar spionasenya di Indonesia.
1945 :
menjadi markas pemuda Indonesia untuk melawan Jepang yang enggan mangkir dari
kekuasaannya sekaligus menjaga status quo.
1949 :
difungsikan kembali menjadi gedung pertunjukan, pesta, restoran, dan pertemuan
lainnya.
1954 :
Ir. Soekarno memerintahkan untuk merenovasi (perubahan bentuk) pada gedung ini
dan digabung ((tidak tau digabung dengan apa karena catatan q hanya sebatas
itu))
1955 :
Gedung Merdeka. Sempat dipugar (memeprbaiki kerusakan). Setelah digunakan
menjadi tempat Konferensi Asia-Afrika, gedung ini difungsikan menjadi Gedung
Perancang Nasional, Gedung MPRS pada 1960-1971, dan tempat tahanan politik
G30S/PKI pada bunkernya. Dan setelah direncanakan secara keseluruhan, jadilah
Museum Asia-Afrika hingga now.
Setelah diberi pencerahan mengenai
sejarah gedung, kami beranjak ke depan diorama (miniatur) deskripsi sidang
pembukaan Konferensi Asia-Afrika. Sekilas info sebagai pencerahanmu, KAA ini
disponsori oleh lima negara yaitu India, Burma (now: Myanmar), Pakistan,
Sri Lanka, dan tentu saja Indonesia. Pada diorama, merekalah yang berada di
belakang Ir. Soekarno alias perwakilan dari negara-negara tadi (Disana juga ada
perwakilan Indonesia yaitu Ali Sastroamidjojo yang waktu itu menjabat sebagai
Perdana Menteri Indonesia. U tidak lupa kan jika Indonesia pernah menjadi
negara serikat?), lalu ada 29 bendera negara yang mengikuti konferensi
tersebut.
Kami diajak berkeliling
museum yang ditata dengan sangat oke. Kiri-kanan dinding dipenuhi oleh
poster-poster (sebut saja begitu) yang meceritakan A to Z Konferensi
Asia-Afrika, dari proses menuju terlaksana hingga apa yang terjadi setelah usai
((kalau tidak salah)). Aku tidak bisa memberikan semua fotonya karena sedikit
sekali yang berquality cukup oke untuk dapat dimaklumi.📷
| foto pembukaan KAA pada 1955 |
| 'wajah' lama Gedung Merdeka |
| 'wajah' lama Gedung Merdeka |
di kertas memorabilia yang berhias seni vignette ini, tertera 78 tanda tangan dari delegasi yang hadir pada KAA |
| pemandu museum sedang menjelaskan kedatangan para delegasi KAA di Bandung |
| yang di tengah itu adalah Dasa Sila Bandung, hasil dari Konferensi Asia-Afrika |
Setelah selesai melawat Museum KAA (q tidak memakai kata ‘puas’ sebagaimana orang kebanyakan karena aku benar-benar belum puas), kami diperkenalkan pada bis yang akan membawa kami keliling Jawa Barat. Kelompokku berada di bus 2, dan jika aku tidak salah mengingat bus kami ini berisikan kelompok 2-4. Huhu jangan bosan y membaca kata “mengingat”, “seingatku”, dan sejenisnya karna kan sudah tiga tahun yang lalu jadi aku tida bisa menjamin 100% tulisanku. Huhu jadi kangen😭
Nah selanjutnya kami ke
Penjara Banceuy. Penjara ini sendiri sebenarnya sudah tidak ada, lupa entah
benar-benar dirobohkan atau dipindah tempatkan. Yang tersisa hanya sel tempat
dimana Bung Karno ditahan. Aseli, kecil sekali. Dan disini beliau menyusun
pledoinya???😮👏🙇
![]() |
| belongs to @Kemdikbud_RI |
((Lihatlah kerumunan itu, Teman-Teman. Mana laki semua, mana
bisa gwa menembusnya begitu sadja.))
Karena hanya sebagian kecil
yang bisa kami jelajahi disini, akhirnya tidak lama kami diminta untuk kembali
ke bus karena perjalanan akan dilanjutkan. FYI banget nih, jalan menuju
ke lokasi ini saja cukup sulit karena tanah bekas bangunan penjaranya udah
dibangun gedung lain. Jadi kayak seakan-akan sel nomor 5 yang pernah jadi
tempat tinggal Bung Karno ini tiba-tiba aja nyempil disitu. Kami harus kayak
ngelangkahin rantai besi gitu (yang itu loh, ah kamu pasti tau) dan jalan
satu-satu (dua-dua, atau tiga-tiga) sampe bisa melihat sel ini.🚍
Oke. Di jadwal yang tertera
di buku panduan kami sih katanya setelah melawat Penjara Banceuy (penggunaan
kata lawat disini tentu saja agar matching dengan nama kegiatan ini:
lawatan. Dan memang itu sih yang kami lakukan, tidak sekadar mengunjungi.) kami
melawat rumah Inggit Garnasih. Sayangnya, waktu yang tidak memungkinkan membuat
kami hanya bisa plengak-plengok saat bus kami melewati rumah Ibu Inggit.🚌
Wow panjang sekali. Dilanjutkan
ke bagian 2 aja y shay agar supaya postingan di blog-ku menjadi banyak.
[Seingatku, geng, aku juga
merekam penjelasan guide dengan ponselku. Jadi mungkin sewaktu-waktu
jika tulisanku ada yg tidak oke atau kurang akan ku perbaiki. Atau mungkin jika kalian
menemukan kekeliruan dalam tulisanku, mohon komentar beserta sumbernya yaa. Plus,
Samsung DV100-ku memiliki valid pixel 16,1 yang katanya sudah terbilang
oke pada jajaran kamera digital jadi dimohon untuk mengurungkan niat ya jika
ingin menghujat hasil foto😟]




Comments
Post a Comment