LASENAS XIII: Day 1



       Wah aku baru remember! Ternyata perkenalan dilakukan sebelum Magrib, dan itu dilakukan di ballroom hotel. Tapi agak kecil, jadi sepertinya bukan. Di depan ruangan ini, yang sebelumnya dijadikan tempat registrasi, terpasang nama-nama peserta yang telah dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Nurul di kelompok 8, Anisa di kelompok 3, dan aku tercemplung di kelompok 4. Akhirnya nanti aku akan menyadari bahwa kami – anak-anak Kalimantan ‘diletakkan’ berurutan (if u kno what I mean), kalau tidak salah sih ya.


     Aku memasuki ruangan dengan perasaan ini aq sokan SKSD aja atau nggak y? dan duduk di kursi pada banjar dua, which is di tengah ruangan. Setelah diem dan looking around, aku diajak kenalan teman duduk di samping kananku. Namanya Anjung dan dia selalu ngingetin ke orang-orang agar mengucapkan namanya dengan benar karena, you know, satu huruf akan mengubah segalanya. Aku lupa kenalan sama Tamara juga atau nggak, tapi yang jelas kami akan akrab karna satu kelompok. Jujur, aku bahkan lupa siapa nama yang kuajak kenalan saat itu. Maafkeun🙊 Tapi sampe sekarang aku masih inget kok siapa-siapa aja yang kukenal disana, cuma lupa momen kenalannya gimana. Asique. Setelah itu yang kami lakukan Cuma mendengarkan arahan dari panitia. Di situ juga aku mengetahui bindam kelompokku, yang maunya dipanggil Kak Agus. Bergulirnya waktu mengantarkan pada Magrib, sehingga kami diminta kembali ke kamar masing-masing untuk berganti baju sesuai dresscode yang saat itu batik dan/atau salat Magrib.


       Singkat story, kami dikumpulkan di depan hotel perkelompok. Disana aku baru tau muka temen-temen sekelompokku dan mereka look good semua (ini serius, geng. Bukan karna aku takut kalian gebukin). Aku lupa siapa yang pertama kali mengajak/kuajak kenalan. Mungkin selanjutnya aku akan menghitung berapa kali aku menyebut lupa disini hhhh. Abis ngumpul semua, kami jalan kaki ke Gedung Merdeka. Senang sekali! Pertama kalinya aku jalan kaki di jalanan Bandung langsung di Jalan Asia Afrika, bareng anak-anak se-Indonesia pula. Waktu itu kami kayak jadi spotlight karena tentu saja kami membuat para pengguna jalan harus bersabar menunggu kami menyeberang. Sesampai kami disana tidak serta merta dilakukan acara pembukaan. Panitia sangat mengerti bahwa kalori kami sudah terkuras jadi kami diberi waktu dan makanannya untuk makan di sekitaran gedung. Kalau tidak salah sih kami makan di koridor di dekat mushalla atau di belakang gedung. Sebenarnya bagian ini cukup samar di ingatanku, tapi aku meyakinkan diri untuk menceritakan ini. Acara makan-makan ini secara tidak langsung menjadi momen pertama kami untuk mengakrabkan diri, mengingat sesi pinjam-meminjam mukena dan bagi-membagi makanan lalu duduk lesehan di lantai.

       Acara pembukaan di mulai ketika kami sudah duduk anteng dan mengantuk karena pendingin ruangan memapar kami dengan hembusan dinginnya. Meski begitu, aku masih sempat senyam-senyum memandangi sekeliling gedung. Yaiyalah, shay. Kapan lagi aku bisa duduk di kursi yang juga di duduki delegasi negara-negara yang mengikuti Konferensi Asia-Afrika? Yup, kursi ini asli dan sama seperti sedia kala.






       Acara dibuka dengan penampilan dari Saung Angklung Udjo dan tari-apa-ya-saya-forget. Aku benar-benar berusaha memperhatikan apa yang sedang disampaikan pada pembukaan ini, dan sayangnya untuk ke 56382 kalinya aku lupa apa saja yang beliau-beliau sampaikan. Intinya, yang aku tahu, aku senang sekali menjadi bagian dari LASENAS XIII! Dan setelah acara berakhir, yang dilakukan tentu saja berfutu. Aku sempat berfoto dengan Pak Endjat Djaenuderadjat, Direktur Sejarah dan Nilai Budaya. Biasanya sih aku males foto-foto beginian, tapi entah kenapa aku ikut aja saat Anisa mengajakku. Sebenarnya agak memalukan untuk memajangnya disini, tapi aku sudah memutuskan urat malu-ku sejak menulis di blog ini.


       Kalau tidak wrong, kami pulang pukul 10 atau 11 malam. Dingin sekali shay. Karena diminta berjalan perkelompok membentuk barisan dua berbanjar, aku jalan berdua Quinta, anak Depok yang dijadikan perwakilan DKI Jakarta. Kayaknya di perjalanan hotel-Gedung Merdeka tadi juga sama Quinta deh. Agar tidak kalah dengan sejoli yang bermesraan di kursi yang ada di sepanjang Jalan Asia-Afrika, kami bergandengan sambil ngobrolin apa aja. Dan ternyata, kami memiliki kesamaan yang gak kepikiran: suka ngelusin kuku jari. Jadi, begaimana ya? Ya intinya begitu. Kami saling terkejut dan asik sendiri ngomongin sensasi lucu-yang-nggak-ngilu kalo kita ngelus kuku jari. Kami jadi semakin tidak canggung setelah itu. Sayup-sayup aku juga mendengar Farhan yang asik banget ngajakin Esau ngobrol pakai dialek Papua. Di kanan-kiri jalan, banyak seniman yang memamerkan lukisannya yang oke banget. Bandung jadi terasa lebih indah bagiku yang belum pernah ke Bandung sebelumnya ini.

       Sesampainya di halaman hotel, kami dikumpulkan oleh bindam kami. Disana kami memperkenalkan diri berikut daerah asal, lalu memilih ketua kelompok. Waktu itu kami asal saja menunjuk Agung sebagai ketua karena saat sebelumnya kami berkumpul untuk keberangkatan Agung lah yang pertama di barisan dan merapikan barisan kelompok kami (Belakangan, Agung malah suka telat dan digantikan Jerry atau Farhan). Sekilas info, cowok di kelompokku cuma empat orang lalu ditambah dengan segerombolan cewek yang jika ditotalkan semua jadi 11 orang. Kebanyakan dari Jawa Barat, yang sebelumnya memang melewati seleksi Lawatan Sejarah Daerah sebelum bisa lanjut ke Lawatan Sejarah Nasional. Hanya empat orang yang bukan dari Jawa Barat dan itu aku, Quinta, Esau, dan Jerry (Tangerang).

       Lalu, sudah. Kami bubar dan ke kamar masing-masing.

       Anjir kenapa isinya menjadi tida penting lyk dis?

   Chill, gengs. Kan post ini memang berada di section Chill. Lagipula, hari pertamaku memang hanya seperti ini. Perjalananku menuju tempat-tempat bersejarah di Jawa Barat baru akan di mulai keesokan harinya. Jadi jangan memakiku so hard y🙏






penting banget: foto-foto kudapat dari https://twitter.com/Kemdikbud_RI karena eh karena foto yang kuhasilkan begitu not good

Comments