Feature: Berprestasi untuk Melawan Pergaulan Negatif
Dibuat untuk memenuhi nilai tugas akhir mata kuliah Pengantar Jurnalistik (11 Januari 2018)
Ridho, begitu ia akrab disapa, meraih juara pertama dalam ajang Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2017. Hal ini sebenarnya bukanlah target yang telah ditentukannya saat berniat mengikuti ajang ini. Diiringi dengan kekehan kecil ia mengatakan bahwa target terbesarnya adalah menjadi Wakil I Nanang Banjar Kota Banjarmasin. Hal tersebut didasari atas keinginannnya melanjutkan perjuangan ke tingkat provinsi, karena penyandang gelar Wakil I Nanang Banjar Kota Banjarmasin secara otomatis diikutsertakan pada Pemilihan Nanang dan Galuh Provinsi Kalimantan Selatan. Ia juga berpikiran bahwa tanggung jawab yang didapat Nanang Banjar sebagai juara pertama sangat besar karena ia menjadi pemimpin dari rekan-rekan di angkatan tersebut. Target awalnya itulah yang membuatnya mempersiapkan diri dan memaksimalkan performanya pada saat karantina.
“Ya minimal saya berada di dalam kumpulan orang-orang baik, karena pergaulan sekarang sudah sangat rawan”. Kalimat tersebut diucapkan dengan penuh keyakinan oleh Muhammad Ridho Anshari. Seakan memperjelas bahwa tujuannya mengikuti ajang Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2017 bukan sekadar mengejar gengsi. Ia menerangkan bahwa selain pengalaman yang ingin didapat, ia ingin memperbanyak relasi yang akan memudahkannya untuk masa akan datang salah satunya dalam pekerjaan.
Ridho, begitu ia akrab disapa, meraih juara pertama dalam ajang Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2017. Hal ini sebenarnya bukanlah target yang telah ditentukannya saat berniat mengikuti ajang ini. Diiringi dengan kekehan kecil ia mengatakan bahwa target terbesarnya adalah menjadi Wakil I Nanang Banjar Kota Banjarmasin. Hal tersebut didasari atas keinginannnya melanjutkan perjuangan ke tingkat provinsi, karena penyandang gelar Wakil I Nanang Banjar Kota Banjarmasin secara otomatis diikutsertakan pada Pemilihan Nanang dan Galuh Provinsi Kalimantan Selatan. Ia juga berpikiran bahwa tanggung jawab yang didapat Nanang Banjar sebagai juara pertama sangat besar karena ia menjadi pemimpin dari rekan-rekan di angkatan tersebut. Target awalnya itulah yang membuatnya mempersiapkan diri dan memaksimalkan performanya pada saat karantina.
Dua bulan sebelum Technical Meeting atau TM (10/06/17), Ridho benar-benar mempersiapkan bekalnya untuk mengikuti Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2017. Satu yang menjadi modal utama menurutnya adalah public speaking. Menariknya, public speaking ia dapatkan dari organisasi Paskibra dan MPK OSIS di sekolah tempat ia dulu menuntut ilmu, SMAN 7 Banjarmasin. Kemudian ditambah dengan pengalamannya menjadi Wakil III Duta Sasirangan Kalimantan Selatan 2015.
Keikutsertaannya dalam Pemilihan Duta Sasirangan ‘Utuh Sirang dan Aluh Sisit’ Kalimantan Selatan tahun 2015 menjadi titik awal perjalanan Ridho. Ketertarikannya bermula dari ajakan keluarga dan tetangga depan rumahnya. Pemilihan Duta Sasirangan ‘Utuh Sirang dan Aluh Sisit’ Kalimantan Selatan diadakan pertama kalinya oleh Komunitas Pecinta Sasirangan pada tahun 2015 tersebut, sehingga menurut Ridho besar kemungkinan yang dimiliki setiap orang untuk mendapatkan gelar juara. Coba-coba ia ikuti kegiatan ini bermodal public speaking yang ia dapatkan di sekolah dan pengetahuan umum serta pengetahuan mengenai sasirangan yang ia dapatkan dari literatur sekolahnya. Tidak disangka-sangka, ia meraih gelar Wakil III Duta Sasirangan Kalimantan Selatan 2015 saat ia masih berada di bangku SMA kelas XII, mengalahkan finalis lain yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Ridho merasa bahagia karena dapat membanggakan kedua orang tuanya, tercermin dari senyum yang terpancar dari matanya saat mengutarakan hal ini. Ia merasa senang dengan bergabungnya ia dalam Komunitas Pecinta Sasirangan (KPS) dapat menjadi batu loncatan dalam mencari ilmu karena selama ini ilmu non-akademik yang ia dapatkan paling banyak berasal dari Paskibra dan MPK OSIS.
Satu tahun menjabat menghasilkan ilmu mengenai banyak hal terutama organisasi, public speaking, serta “dunia kemasyarakatan” yang tidak bisa ia dapatkan di SMA melalui pertemuannya dengan orang-orang hebat seperti diantaranya Agus Sasirangan dan desainer-desainer muda Banjarmasin. Ia dan rekan-rekannya dididik untuk sering mengadakan sharing session yang mendatangkan pembicara-pembicara berkualitas. Hingga saat ini, ia masih tergabung dalam Komunitas Pecinta Sasirangan.
Satu lagi target yang ingin ia raih yaitu pada Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2016. Sayangnya setelah mengikuti Technical Meeting ada suatu kendala yang membuatnya tidak dapat meneruskan perjuangannya kala itu. Namun karena ia benar-benar tertarik mengikuti ajang ini, ia terus mengikuti aktivitas Nanang dan Galuh Banjar kota Banjarmasin sehingga ia meyakinkan diri untuk kembali mendaftar pada tahun 2017.
Hal yang ia persiakan selanjutnya adalah bakat. Awalnya ia ingin membawakan seni bepanting mengingat ia memiliki dasar bermain alat musik serupa yaitu gitar. Namun ia berpendapat bahwa bakat tersebut sudah sering dibawakan orang lain. Ridho kemudian memilih bekuntau sebagai bakat yang ia bawakan pada ajang ini.
Bekuntau adalah seni bela diri dari Kalimantan Selatan yang kini mulai jarang ditemui. Ini terbukti dengan sulitnya Ridho mencari pelatih bekuntau, hingga pada akhirnya pamannya yang memiliki kemampuan bela diri mempunyai kenalan yang dapat melatih Ridho menguasai bekuntau. Pelatihnya adalah seorang satuan pengamanan (satpam) Waterboom Pesona Modern. Untuk itu awal latihan bertempat di Waterboom. Terkendala pada waktu membuat latihan dipindah ke rumah pelatih yang berada di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Latihan dimulai pada malam hari mengingat rutinitas Ridho sebagai seorang mahasiswa jurusan Teknik Informatika Politeknik Negeri Banjarmasin. Ia berlatih hingga lima kali dalam seminggu dan dengan jarak tempuh dari rumahnya menuju tempat latihan yang cukup jauh, ia tetap tidak mengeluh karena menurutnya memang inilah yang ia perlukan.
Bela diri ia pilih sebagai bakat yang ia tunjukkan karena ia menanggap bahwa dengan gerakan tegas pada bela diri dapat ia pelajari dala waktu yang cukup singkat mengingat hanya tersisa dua bulan sebelum TM. Selain itu, ia ingin tampil beda dari kontestan yang lain. Sederhana saja, membawakan bakat yang berbeda membuat juri menjadi terfokus pada dirinya karena penilaian bakat bekuntau hanya pada dirinya sebagai satu-satunya yang membawakan bakat tersebut.
Serangkaian seleksi yang Ridho jalani membawanya masuk ke dalam jajaran finalis. Tes tertulis, catwalk, public speaking, wawancara, dan malam unjuk bakat telah ia lewati hingga rangkaian terakhir yang ia ikuti sebelum malam final Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin adalah karantina. “Selama proses karantina, karena memang aku niat banar, jadi mau kada mau aku harus unggul daripada yang lain dalam segala momen yang bisa didapatkan untuk memeroleh nilai,” ucap Ridho saat ditanya mengenai karantina. Karantina terbagi atas karantina luar dan karantina dalam. Karantina luar diadakan selama satu bulan dan bertempat di Menara Pandang Siring Sungai Martapura. Karantina luar berisi kunjungan-kunjungan dan sesi lainnya seperti Focus Group Discussion. Pada tiap sesi ia berusaha untuk selalu mengeluarkan suara pikirannya baik berupa pertanyaan maupun pendapat. Ia menambahkan bahwa apa yang diutarakan haruslah terlihat berisi dan setiap sesi tanya-jawab yang setelah penyampaian materi ia harus mengajukan pertanyaan. “Ya jadi kayapa caranya pang kita terlihat unggul tapi kaya kada kelihatan mencari muha kaitu nah”. Sedangkan pada karantina dalam yang dilaksanakan tiga hari di Hotel Rattan Inn, karantina lebih difokuskan pada materi-materi dan latihan tari yang akan ditampilkan pada malam final.
Setinggi apapun semangat yang dimiliki, suatu saat pasti akan datang saat dimana kita telah mencapai titik jenuh. Hal ini juga dirasakan Ridho pada saat karantina dalam. Ia menjadi malas-malasan dan kehilangan semangat karena melihat potensi dari saingannya. Selain itu, uniknya, titik jenuh ini justru muncul karena ketakutannya akan kegagalan membawa pulang gelar juara untuk orang tuanya. Ia takut mengecewakan orang tuanya yang telah ikut berjuang dan mendukung penuh dirinya baik secara materi maupun moril. Padahal seharusnya hal tersebut yang menjadi pembangkit semangat agar menampilkan yang terbaik. Mungkin juga kejenuhan ini muncul karena durasi karantina yang cukup lama dan hampir-hampir membosankan. Pikiran seperti itu terus menghantuinya pada hari pertama karantina dalam hingga pada malam harinya ia kembali merenung dan menyadari bahwa apa yang berkutan dipikirannya tersebut salah.
Keesokan harinya, Ridho tampil all out mengenai apa yang harus ia dapatkan di masa karantina. Hingga pada malam final, setelah ia menjawab pertanyaan dari juri dan merasa lega atas jawaban yang diberikan, tidak bermaksud sombong ia mengatakan bahwa feeling-nya kuat berkata bahwa dialah yang akan menjadi Nanang Banjar Kota Banjarmasin 2017. “Kaya hati ni menyambat sorang padahal aku tu menghindari banar hal itu karna takutan sombong. Kaya ujub kaitu nah bedahulu timbul kena hasilnya kada sesuai,” akunya dalam Bahasa Banjar.
Setelah resmi menjabat sebagai Nanang Banjar Kota Banjarmasin 2017, hal yang selanjutnya dilakukan adalah koordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin. Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin akan terikat sepenuhnya bekerja dengan Disbudpar selama satu tahun. Ia juga melakukan rapat-rapat internal dengan rekan sesama Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin 2017 sebagai tanggung jawab moralnya yang menghasilkan beberapa kegiatan peringatan hari-hari besar yang telah terlaksana.
Pertemuan saya dengan Ridho di rumah teman kami di kawasan Citraland Banjarmasin sudah hampir sampai pada penghujung perbincangan. Ia menuturkan rencana kedepannya yaitu menjalankan amanah sebagai Nanang Banjar Kota Banjarmasin 2017 selama satu tahun dan berharap semoga ia dan rekan-rekan Nanang dan Galuh Banjar Kota Banjarmasin tahun 2017 memiliki kinerja yang baik. Selain itu ia mengatakan bahwa setelah habis satu tahun tugasnya belumlah usai, karena setelah dilengserkan oleh Nanang Banjar Kota Banjarmasin 2018 nanti ia akan melanjutkan ke Pemilihan Nanang dan Galuh Banjar Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018 dan ia juga berharap dapat mendapatkan hasil terbaik.
Akhir kata, Ridho berpesan jika ingin mengikuti suatu kompetisi, percayalah bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil karena hal tersebut telah ia buktikan sendiri. Lalu selagi muda carilah prestasi sebanyak mungkin karena selain berdampak positif untuk masa depan dalam dunia pekerjaan maupun sosial-masyarakat, prestasi tersebut juga untuk nama baik diri sendiri dan keluarga. “Tapi pilih-pilihlah karna di Banjarmasin sekarang banyak sekedar duta-dutaan, cari yang benefit-nya emang bagus untuk kita. Berkumpullah dengan orang-orang baik agar kita menjadi baik pula.”
catatan banget: foto not by me
catatan banget: foto not by me
Comments
Post a Comment