Peristiwa Rengasdengklok: Gebrakan Semangat Golongan Pemuda

FYI banget nih, I honestly tidak mengerti yang kutulis ini makalah atau esai. Karena eh karena, di awal aku membuat sort of esai dan ternyata... eng ing eng! "kok gak terbagi atas bab-bab, shay?" kata guru pembimbingku. Anyway, tulisan ini di-submit untuk persyaratan keikutsertaan dalam Lawatan Sejarah Nasional XIII 2015. Aku yang payah skale saat itu hanya bisa termangap saat diminta membuat karya tulis, dan inilah hasilnya. But, ya, alhamdulillah aku tetap bisa mewakili Kalimantan Selatan untuk mengikuti event nasional tersebut.
Tertanggal 13 April 2014.



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Rengasdengklok, kota kecil dekat Karawang dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km dari Kedunggede, Karawang. Dengan demikian, setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok lebih mudah terdeteksi, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.
            Adanya perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda berkaitan dengan waktu yang tepat untuk mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia menyebabkan peristiwa Rengasdengklok. Menurut pendapat golongan tua, untuk memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia harus menunggu waktu yang diberikan oleh pemerintah Jepang sebab mereka telah memberikan janji kemerdekaan, sedangkan menurut golongan muda proklamasi kemerdekaan seharusnya secepat mungkin dilaksanakan dengan memanfaatkan kekosongan kekuasaan atau vacuum of power.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan enulis utarakan dalam pembahasan didalam karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kronologi peristiwa Rengasdengklok?
2.      Apa penyebab pertentangan antara golongan tua dan golongan muda?
3.      Apa hubungan antara golongan tua dan golongan muda?
4.      Apa yang dimaksud dengan golongan muda?


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kronologi Peristiwa Rengasdengklok
            Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi; Ahmad Soebardjo sebagai berikut.
            ”Sekarang, Bung. Sekarang! Malam ini juga kita kobarkan revolusi!”, kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan Bung Karno bahwa ribuan pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ”Kita harus segera merebut kekuasaan!”, tukas Sukarni berapi-api. ”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!”, seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan, ”Jika Bung Karno tidak mengeluarkan pengumuman pada malam ini juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari.”.
            Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil berkata, ”Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!”. Hatta kemudian memperingatkan Wikana, Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan itu sendiri? Mengapa meminta Soekarno untuk melakukan hal itu?”.
            Namun, para pemuda terus mendesak, Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri telah menyerah dan telah takluk dalam Perang Sucinya”?! Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?”. Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata, “… kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara Jepang! Coba, apa yang bisa kau perlihatkan kepada saya? Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah diproklamasikan? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri“. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.
            Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta.
          Pada tanggal 16 Agustus 1945 di Asrama Baperpi Jalan Cikini 74 Jakarta, golongan muda mengadakan rapat yang dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dr. Muwardi, dan Shudanco Singgih dan Paidan Peta Jakarta. Rapat ini membuat keputusan untuk mengasingkan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke luar kota dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dan segala pengaruh Jepang. Untuk menghindari kecurigaan dari pihak Jepang, Shudanco Singgih mendapatkan kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut.

2.2. Penyebab Pertentangan Antara Golongan Tua dan Golongan Muda
            Pertentangan antara golongan tua dan muda terjadi jauh sebelum mendekati proklamasi yaitu saat Soekarno menjabat sebagai ketua Jawa Hookokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Soekarno didatangi para pemuda yang ingin menyampaikan aspirasi-aspirasinya, saat itu adalah masa-masa sidang kedua BPUPKI. Menurut para pemuda, kemerdekaan Indonesia tidak perlu menunggu perintah dari Jepang.
            Para pemuda revolusioner tersebut adalah anggota dari Gerakan Angkatan Baru yang diketuai oleh BM. Diah. Mereka berusaha menjelaskan kepada Soekarno bahwa mereka mengikuti setiap berita yang dilaporkan melalui radio-radio luar negeri. Dikabarkan bahwa kekuatan Jepang telah terdesak oleh Sekutu dan tidak lama lagi Jepang akan lumpuh. Namun pernyataan dan kabar menggembirakan itu tidak dapat meyakinkan Soekarno karena ia tetap bersikukuh pada keputusan panitia untuk melanjutkan sidang BPUPKI.
            Penolakan Soekarno membuat para pemuda semakin kecewa mengingat sebelumnya mereka juga meminta dukungan Hatta namun bernasib sama. Penolakan tersebut mereka anggap bahwa Soekarno dan Hatta bukan pejuang revolusioner. Para pemuda terus menerus mendesak Soekarno-Hatta sampai kemudian mereka mencapai titik puncak kekecewaan mereka terhadap golongan tua hingga hal tersebut melahirkan peristiwa Rengasdengklok.

2.3. Hubungan Antara Golongan Tua dan Golongan Muda
            Semangat golongan muda yang begitu menggelora ternyata belum bisa mengambil hati golongan tua untuk melaksanakan keinginan mereka yaitu sesegera mungkin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Semangat golongan muda ini tentu juga terpengaruh gejolak amarah akan para penjajah sehingga bisa jadi hasil yang didapat justru akan merugikan Indonesia. Tidak seperti golongan tua yang cenderung bergerak “aman”, golongan muda terus berusaha mewujudkan keinginan mereka dengan berbagai cara. Hal ini jelas merupakan tindakan gegabah yang akhirnya berujung pada kekecewaan golongan tua, bahkan rakyat Indonesia.
            Seperti yang telah ditanyakan Soekarno, para pemuda nyatanya tidak memikirkan bagaimana jika pemberontakan terjadi. Terkorbankannya orang-orang yang tak berdosa, kerusakan lingkungan akibat pertempuran, hingga penangkapan tokoh-tokoh pemberontak yang justru akan berujung pada semakin lambannya pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Tindakan-tindakan logis dan aman lah yang harus dilakukan, seperti yang selalu golongan tua pikirkan.
            Sebagai makhluk hidup yang mengalami pertumbuhan, para tokoh golongan tua tentu memiliki masa muda. Mereka juga telah merasakan pahitnya dijajah sejak kecil, dimulai dari penjajahan Belanda. Mungkin saja mereka juga pernah berpikiran untuk mengambil tindakan sepihak seperti yang ingin dilakukan golongan pemuda ini lalu ternyata hasil yang mereka dapat justru tidak sesuai harapan. Sehingga dengan tegas golongan tua menolak gagasan golongan muda tersebut.
            Gebrakan-gebrakan mereka lakukan agar tercapai kemerdekaan Indonesia. Golongan muda berusaha memenangkan hati rakyat kecil agar mereka sadar akan rencana picik penjajah kemudian bersama berjuang memerdekakan tanah air ini. Tetapi seperti yang kita tahu, mereka belum berani secara terang-terangan menentang Jepang. Sangat jelas bahwa terlalu konyol untuk melakukan hal tersebut. Dapat dilihat bahwa golongan muda masih bisa mematuhi perkataan golongan tua. Walaupun golongan muda sangat ingin melakukan pemberontakan, namun mereka masih dapat meredam emosi mereka dan berusaha bertindak lebih aman seperti golongan tua.
            Bisa saja terjadinya peristiwa Rengasdengklok akibat kesabaran golongan muda yang telah habis. Walaupun sebenarnya sabar tak memiliki batasan, hanya manusia itu sendirilah yang memberikan batasan pada kesabarannya. Atau mungkin sebenarnya hal inilah yang disuarakan rakyat Indonesia kepada golongan muda sehingga mereka dengan percaya diri melakukannya? Tetap saja sangat disayangkan besarnya semangat mereka malah melahirkan pemikiran kurang tepat karena tak diimbangi dengan ketenangan dan pemikiran jangka panjang.
            Terlihat pada percakapan golongan muda dengan Soekarno-Hatta di rumah Soekarno, bahwa mereka belum memikirkan secara keseluruhan tentang rencana mereka. Mereka begitu optimis dan sangat yakin dengan rencananya, padahal sebenarnya rencana tersebut masih belum matang. Mereka tidak memikirkan dampak dan kemungkinan terburuk yang akan mereka dapat. Bahkan Wikana akan mengancam pertumpahan darah jika hal tersebut tidak dilakukan, sungguh pemikiran yang tidak rasional. Semangat dan optimisme bukan berarti mengabaikan aspek-aspek lainnya.
            Berbicara tentang semangat golongan muda, bisa jadi semangat mereka ini sebenarnya hanya merupakan kemarahan dan rasa ingin menuntut balas. Seperti yang kita ketahui, para pemuda memiliki pemikiran yang belum cukup matang dan mudah terbawa perasaan, juga terhasut. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman dan pengalaman. Pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana  konon kabarnya terbakar gelora heroismenya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Terkadang bahkan rasa egoisme seorang pemuda cenderung lebih mendominasi.
            Kembali pada percakapan golongan muda dengan Soekarno-Hatta, para pemuda yang sudah berapi-api mengatakan bahwa Indonesia tidak perlu menunggu hadiah kemerdekaan dari Jepang. Disinilah jiwa pemuda yang tidak mau kalah terlihat. Memang, hal tersebut bukanlah kemerdekaan yang bangsa Indonesia sebenarnya harapkan. Namun bahkan pada akhirnya kemerdekaan yang kita dapat ini merupakan penepatan janji dari Jepang, yang bisa kita artikan sebagai hadiah. Dan nyatanya, golongan muda menerima hal tersebut.
            Mungkinkah golongan muda melakukan pergerakan “berani mati” ini karena mereka juga ingin dianggap sebagai pahlawan penting? Kita tak pernah tahu isi hati manusia yang sebenarnya. Namun perlu diingat bahwa itu hanyalah praduga, dan jelas sangat tidak baik berprasangka buruk terhadap para golongan muda ini yang memang para pahlawan. Bukti mengenai hal tersebut juga tidak nampak. Akan tetapi hal ini malah terlihat pada pemuda zaman sekarang, walaupun dalam konteks yang berbeda. Mereka cenderung melakukan sesuatu karena dorongan nafsu dan tanpa pikir panjang. Para pemuda zaman sekarang bahkan ada yang bertindak heroik agar mendapatkan pengakuan di mata masyarakat. Hal-hal tersebut mereka lakukan biasanya mengatasnamakan pencarian jati diri.
            Ambil saja contoh kecil dari kehidupan pemuda masa kini, yaitu penggunaan media sosial. Mereka yang tidak mampu mengelola emosi cenderung meluapkan apapun yang ada di pikirannya melalui sosial media. Entah itu masalah pribadi ataupun kritikan-kritikan terhadap isu-isu yang berkembang dewasa ini. Tentu saja hal tersebut akan jauh lebih baik jika tidak dilakukan, walaupun perbuatan mereka tidak terlalu memengaruhi aspek kehidupan. Namun sering kita dapati bahwa hal ini dapat di pidanakan jika komentarnya tersebut membuat nama baik hal yang ia komentari itu tercemar.
            Semangat yang menggebu-gebu tak harus  ditunjukkan dengan bertindak tergesa-gesa. Semangat adalah roh kehidupan yang menjiwai segala makhluk. Bersungguh-sungguh dalam melakukan hal yang ia inginkan juga merupakan arti dari semangat. Misalnya seperti golongan tua, meskipun mereka terkesan pro pemerintah Jepang namun di sisi lain mereka menyusun strategi agar Indonesia meraih kemerdekaannya. Mereka memikirkan strategi tersebut matang-matang karena mereka tak ingin suatu hal pun terkorbankan dengan sia-sia. Dikatakan bahwa Jepang sangat panadai dalam melakukan propaganda, namun sebenarnya Indonesia lah yang lebih cerdik karna memanfaatkan propaganda-propaganda tersebut sebagai bumerang. Mereka menyisipkan kepentingan-kepentingan untuk Indonesia dalam setiap keputusan yang akan diputuskan bersama pemerintahan kolonial.
            Sebenarnya, seperti yang kita ketahui, Jepang memang berhasil melancarkan propagandanya yaitu Jepang Saudara Asia. Diperkuat dengan ramalan Jayabaya yang menyebutkan bahwa akan ada bangsa yang membebaskan Nusantara dari penjajahan, hal ini tentu menguntungkan bagi Jepang. Hanya pemuda yang terjun dalam bidang politik lah yang sadar akan kekeliruan ini. Namun agar terciptanya kemerdekaan yang aman dan utuh, maka golongan tua memutuskan agar mereka harus terihat kooperatif sehingga Jepang dapat memercayai mereka dan tidak sepenuhnya menguasai pemerintahan. Kemudian terciptalah “gerakan bawah tanah” non kooperatif yang dijalankan oleh golongan muda.
            Tak dapat di pungkiri, pergerakan golongan tua yang terasa lamban membuat golongan muda tidak sabar. Tentu mereka sudah muak dengan perlakuan Jepang terhadap Indonesia. Dari propaganda-propaganda hingga tindakan Jepang yang memanfaatkan golongan tua. Amarah mereka semakin tersulut sementara golongan tua tidak berhasil meyakinkan mereka tentang tindakan golongan tua yang sebenarnya juga memiliki tujuan yang sama; sesegera mungkin meraih kemerdekaan.
              Sebuah tindakan berani pun diambil golongan muda, seperti yang sudah dituliskan diawal. Pengasingan tokoh golongan tua ternyata tidak membuat mereka luluh lalu mengikuti kemauan golongan muda. Namun ternyata desakan mereka terhadap Soekarno dan Hatta tidak membuahkan hasil. Berceritalah Soekarno bahwa ia adalah seorang yang mempercayai pengaruh mistik, dan memilih tanggal 17 atas dasar prasangkanya yang berkata bahwa saat itulah yang tepat. “Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia“, ungkapnya.
              Sementara itu, di Jakarta terjadi perbincangan Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda tentang kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta. Laksamana Tadashi Maeda bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.
              Tak berhasil meluluhkan hati golongan tua, akhirnya justru golongan muda-lah yang mengalah. Meskipun keputusan ini bentuk sebuah kepasrahan atas rencana mereka yang tidak dijalankan, namun pada dasarnya tujuan mereka tetap sama yaitu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya.

2.4. Pengertian Golongan Muda
              Golongan muda adalah orang-orang yang memiliki keberanian dan semangat yang menggelora. Mereka, dengan kemurnian pemikiran dan visi yang ideal terlihat berbeda dengan golongan reformis. Ketidaksabaran mereka membuat perjalanan ide itu menjadi dinamis. Sikap seperti ini yang membuat golongan muda seringkali dianggap tidak kompromis, cenderung terburu-buru. Tak heran jika para pemuda selalu ingin mengambil alih kepemimpinan karna sifat tersebut dan semangat yang menggebu-gebu.
              Namun saat ini, justru pemuda dengan “semangat lembek” dan “semangat tua” lah yang kita temui. Bermain aman juga tidak berani mengambil resiko. Bahkan dapat ditemukan golongan pemuda yang mengatakan seolah ia telah melewati berbagai resiko, meskipun hal yang sebenarnya adalah sebaliknya. Sangat disayangkan.
              Golongan muda dapat kita identifikasikan menjadi dua bagian yang berbeda. Golongan pertama adalah orang-orang yang lebih dekat dengan orang-orang tua, namun mereka menjadi tidak memiliki hasrat untuk berkreasi dan melakukan pergerakan karena mereka cenderung menunggu perintah dari golongan tua. Golongan kedua adalah orang-orang dengan pemikiran yang berbeda namun seolah terpasung dengan preventifnya golongan tua. Mereka hanya bisa diam menahan gejolak pergerakannya.


BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
              Jiwa muda tentunya ingin berontak untuk melawan. Mereka menjadi pemuda yang tak takut mengambil resiko apapun, namun membuat mereka tak memikirkan dampak akan resiko yang mereka ambil pada aspek yang lain. Jika kita lihat lebih saksama, golongan muda pejuang proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan gabungan dari kedua golongan tersebut namun kemudian menjadi berontak akibat semangat jiwa muda mereka yang tidak dibarengi dengan keputusan-keputusan golongan tua yang tepat bagi para pemuda.
              Untuk itu, keterbukaan dan lancarnya komunikasi antar golongan sangat diperlukan. Hal tersebut nantinya akan membuahkan pemikiran yang sama sehingga memperkecil kemungkinan pertentangan yang ada. Meskipun mungkin pada ranah politik hal ini agak susah diwujudkan. Tentu harus ada pihak yang mengalah, namun bukan berarti sepenuhnya mengikuti kemauan pihak yang lain. Kepercayaan satu sama lain merupakan point penting lainnya. Peleburan ego dan sikap mendengarkan pendapat dengan baik, juga dengan pembawaan lebih tenang. Kemudian terciptalah keadaan layaknya semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.


DAFTAR PUSTAKA

Comments